Kini kita
telah berada pada zaman 'muslimah ngaji' menjadi jutaan, hijab menjadi pujian,
dan kata 'Hijrah' menjadi banggaan. Maasya Allah, nampaknya Syariat Allah tidak
lagi asing bahkan diminati, sunnah Nabi tidak lagi didebati bahkan diindahi.
Dan inilah
'Aku dan Hijrah jaman now'
Jika dahulu
shahabiyah berhijab karena Allah Ta'ala, aku berhijab karena mengikut trend
modern hari ini. Bukan hanya itu, aku juga berhijab dan berhijrah karena
menyukai seorang Ikhwan dan aku termotivasi untuk hadir di majelis ilmu karena
ingin baik di matanya, aku juga tertarik berhijab karena melihat temanku yang
berhijab lebar. Niatku sesungguhnya bukan karena Perintah Allah dalam
QS.An-Nuur:24,31 dan QS.Al-Ahzab:59. Buktinya, aku tak menghafalkan ayat itu
atau sekedar menghafal terjemahannya, aku belum cukup membaca tafsirnya apalagi
mentadabburinya.
Yah inilah
'Aku dan Hijrah jaman now'
Jika
muslimah di zaman Nabi dan shahabat menutup kain ke seluruh tubuhnya dan
seutuhnya, aku berhijab karena ingin dilihat. Aku ingin seisi dunia dan jagad
dunia maya tahu bahwa aku sedang belajar menjadi baik, yah akulah wanita
shalihah yang tertutup tapi agak terbuka sih... Aku suka jika banyak yang
memuji keshalihanku, hingga aku menjadi pusat perhatian para lelaki dan sumber
insprasi muslimah lain, hingga aku jadi terkenal.
Inilah 'Aku
dan Hijrah jaman now'
Dulu,
muslimah zaman Nabi menutup diri dari celah fitnah dan senantiasa
menyembunyikan kecantikan dirinya. Aku di jaman now mengumbar fitnah
kemana-mana dengan hijab gelapku yang anggun, hijabku yang lebar berkibar-kibar
di akun sosial mediaku, mataku yang indah berhias cadar menggugah misteri buat
para ikhwan, gambarku yang siluet dan dari belakang memberi kesan yang dalam
dan eksotis kemudian kuberi caption ayat-ayat Allah, hadits-hadits Nabi, dan
kata-kata mutiara. Sungguh sebenarnya yang ingin kusampaikan memang kebaikan
tapi kupadukan dengan mempromosikan atau bahasa kasarnya 'memamerkan' diriku
pada khalayak bahwa aku telah berhijrah.
Aku mengaku
mengikuti Ummahatul Mu'minin namun aku lupa ternyata Ummahatul Mu'minin
bermahkota rasa malu, sampai-sampai mereka -radhiallahu'anhuma jami'an- jika
berbicara dengan lelaki lain, mereka dibalik tirai hijab, tidak saling melihat
apalagi tatap-tatapan, apatahlagi ngobrol basa basi. Sedangkan aku membuka
semua celah percakapan dengan lawan jenis tanpa rasa malu, di dunia nyata
apalagi di dunia maya, sendirian apalagi di tengah keramaian. Aku berdalih
"tidak ngapa-ngapain kok!...' aku lupa bahwa syaithan itu licik bahkan
syaithan mengalir hingga ke darah manusia.
Apa yang
bisa kubanggakan dari hijrahku ini? Inikah yang kusebut-sebut sebagai hijrah?
Inilah aku.
Dan aku menyadarinya bahwa selama ini aku salah, padahal aku pernah mendengar
bahwa Rasulullah shallallahu 'alai wa sallam bersabda "Sesungguhnya amalan
itu bergantung dari niatnya". Maka apa yang bisa kubanggakan dari hijrahku
ini jika ternyata usahaku menutup diri, koceh yang kukeluarkan untuk membeli
hijab, kaos kaki, gamis, manset, buku-buku, transportasi majelis ilmu.. ternyata
sia-sia di sisi Allah hanya karena sesuatu yang tersembunyi di dalam hatiku,
ialah niatku!.
Kelak di
hari kiamat aku hanya menyaksikan bahwa segala amalanku hanyalah bagaikan debu
beterbangan, memang banyak namun tak ada nilainya di sisi Allah. Karena amalan
sholeh ini bukan kupersembahkan untuk Tuhanku, hingga api neraka dihadapkan di
mataku dan penyesalan tiada guna lagi untukku, maka kusadarilah bahwa niatku
tak boleh kupermainkan dengan hawa nafsu.
Apa yang
bisa kubanggakan sementara muslimah di zaman Nabi harus meneteskan darah, air
mata, sujud yang panjang di sepertiga malam untuk menegakkan perintah Allah.
Sementara aku hanya berbekal membaca sedikit dan mendengar kajian sedikit,
banyak tertawa bercanda, lalu dengan pedenya bermodal hijab saja kuyakin akan
masuk Syurga? Bagaimana mungkin!
Kusadari
bahwa mereka (muslimah zaman Nabi) senantiasa berbekal dengan tarbiyah
(pendidikan) Nabi, mereka senantiasa menghias diri dengan mengilmui
sedalam-dalamnya Al-Qur'an dan Sunnah hingga hijab di mata mereka adalah jihad
dan perjuangan mereka. Sementara aku?? Apa yang bisa kubanggakan dengan
hijrahku? Aku hadir di majelis ilmu sekedar meramaikan dan pencitraan, bagaikan
buih di lautan yang banyak namun tak ada artinya. Tak heranlah jika kadang
kesombongan merajaiku karena pendeknya ilmuku.
Aduhai, kini
kusadari wanita tanpa dihiaspun sebenarnya tercipta dengan perhiasan, jika
semakin dihias maka akan menjadi fitnah yang besar tatkala diumbar kemana-mana.
Semoga yang
berperan "Aku" dalam tulisan ini bukanlah engkau yang sedang membaca
tulisan ini, jika engkau tersinggung sedikit 'apalagi tersinggung banyak' maka
muhasabalah dan kenalilah dirimu duhai muslimah yang cantik nan shalihah dan
taatilah perintah Tuhanmu, sesungguhnya Ia Maha Melihat lagi Maha Mengetahui.
Ia mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati, ia mengetahui semua amalan kecil
dan besar, dan menghisab semuanya.
Sebelum ruh
terpisah dari jasad, ampunan Allah senantiasa terbuka lebar walau hamba
berlumur dosa. Maka selagi Allah masih memberi kesempatan untuk bertaubat,
perbaikilah semuanya, perbaikilah niatmu. "Setiap anak Adam pasti pernah
melakukan dosa, dan sebaik-baik dari mereka adalah yang segera bertaubat pada
Allah." Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Wanita
adalah kunci kebaikan peradaban, jika ia baik maka baiklah generasi. Namun jika
ia buruk, maka buruklah generasi peradaban.
Sadar atau
tidak duhai Saudariku-karena Allah-, engkaulah pengemban amanah ini. Maka
jagalah amanah pembangun generasi ini, karena engkau bisa menjadi sebab
kebaikan dan sebab malapetaka.
Dan wanita
yang sejati ialah yang menyadari fitrahnya sebagai muslimah yang indah,
senantiasa menjaga kehormatannya, rasa malunya, dan senantiasa menaati Rabb
semesta alam. Semoga Allah memberi taufiq-Nya, menunjukkan pada kita jalan yang
lurus dan meneguhkan kita di atasnya. Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kita
berada, barakallahufiikunna jami'an. Wallahu Ta'ala a'lam.
Share!,semoga
bermanfaat.
[Oleh: Ria
Mardiah]

No comments:
Post a Comment