Dakwah Kampus
Kita sama dengan Nashrani/Kristen, sama-sama memuliakan Yesus (Nabi 'Isa 'alaihissalam). Namun kita (Muslim) memuliakannya sebagai utusan Allah bukan sebagai Tuhan yang disembah.
Natal adalah hari Raya memperingati kelahiran Yesus yang mereka anggap anak Allah dan mereka anggap Tuhan yang disembah.
Menghadiri acaranya, memperingatinya, merayakannya sama saja sebagai sikap mempercayai keyakinan mereka.
Ibaratnya kita mengatakan (baik secara lisan maupun tersirat), "Selamat merayakan kelahiran Tuhan Yesus, Putera Allah." Sikap seperti ini merusak akidah kita, karena mempersekutukan Allah adalah dosa yang paling besar, dan pernyataan "Allah memiliki anak" adalah pernyataan yang sangat keji. Allah Ta'ala berfirman:
"Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas:1-4)
“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92)
Allahpun membantah bahwa perkataan itu sungguh keji. Jika Allah memiliki Anak maka itu menandakan Allah memiliki kekurangan dan memiliki kebutuhan terhadap makhluk, padahal Allah itu al ghoniy al hamid (Yang Maha Cukup/tidak butuh terhadap makhluk-Nya)
Maka, pantaskah muslim memberi ucapan selamat natal? Sedangkan perkataan seperti itu berkonsekuensi besar terhadap akidah kita.
Jaga akidah kita. Islam itu agama toleransi. Kita tetap menjaga muamalah yang baik dengan mereka. Tapi tidak ada toleransi dalam beraqidah. Lakum diinukum waliyadiin (untukmu agamamu, untukku agamaku) untukmu kekafiranmu, untukku ketauhidanku.
Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Allah tidaklah memiliki anak dan istri. Tidak ada yang semisal dengan-Nya. Allah itu Al Ahad Ash Shomad (Maha Esa dan semua makhluk bergantung pada-Nya).
Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.
Oleh: Ria Mardiah
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment