Aku
berfikir dengan keras, untuk apa aku berdakwah. Menderaskan darah yang mengalir
di dalam pembuluh. Mem-push keringat yang keluar dari seluruh kelenjar
keringat. Untuk apa berdakwah?Mungkin pertanyaan ini sama ketika Baginda
Ibrahim Alahissalam bertanya kepada Allah
bagaiman Allah menciptakan manusia setelah ia mati. Hal itu bukan berarti
Baginda tidak percaya dan belum yakin kepada Allah.
Aku
pun terhenyak bahwa tidak ada jalan lain untuk menuju ke syurga selain cara
ini. Tidak ada jalan yang membuat kita terbebas dari peristiwa besar yang
bernama Peristiwa penghisaban kecuali jalan ini. Tidak ada yang bisa membuat
kita terakselerasi dalam setiap step-nya di akhirat nanti kecuali melalui jalan
ini >>
Dakwah
bukan menjadi boncengan JABATAN, apalagi uang. Dakwah berarti penyerahan diri.
Untuk apa kita menyerahkan diri. Apalah arti dari diri ini, sebongkah calon
fisik yang busuk. Untuk apa kita mengisi usus besar kita dengan sesuatu yang
nantinya akan kita keluarkan lagi.
Apakah
belum menjadi cukup besar bukti orang-orang yang telah mengabdikan dirinya dan
mewakafkan dirinya di jalan Allah dan dia mengisahkan dirinya dengan kematian
yang agung?
Apakah
kemenangan dakwah ini bisa aku lihat di dunia ini?, bilakah ada orang yang
tidak senang menjadi aktor pergerakan, mention-kan kepada sy. Siapa orang
itu!, bagaimana rasanya bila kita adalah faktor establish-nya kemenagan wajah
Allah di muka Bumi.
Buat
apa berdakwah jika hanya kepada “dia” kita memberi tausyiah ? Buat apa
berdakwah jika hanya kepadanya kita mengingatkan untuk sholat tahajud ? Buat
apa dakwah jika di hati kita hanya ada seorang mad’u ? buat apa dakwah jika
hanya seorang yang membutuhkan kita? so, jika saat ini kita terserang virus
merah jambu, tidur saja di kamar. Bayangkan wajahnya ! buat puisi
sebanyak-banyaknya tentang dia ! persetan dengan rekruitmen kader yang meminta
waktu dan tenaga ! mending pikirkan saja si dia. dan selamat ! kamu akan sukses
menjadi manusia yang egois !
Jangan
pernah berkata dunia membutuhkan saya ! jika kenyataannya, kita hanya
memikirkan dia. Jangan pernah memikirkan ummat, jika dalam benak kita hanya
berisi pertanyaan : apa makanan kesukaannya ? siapa teman terdekatnya ? berapa
ukuran sepatunya ? apa hobinya ? lewat mana dia berangkat kuliah ? bahkan
mencoba menghafalkan jadwal kuliahnya !
Demikianlah
dahsyatnya virus merah jambu jika sudah menyerang kita. Kita tidak akan sempat
memikirkan orang lain, karena dalam hati kita hanya ada seseorang. Kita akan
tenggelam dalam lamunan demi lamunan yang membius seluruh aktivitas kita.
Untuk
kamu para aktivis dakwah simaklah kata-kata mutiara di bawah ini
Ya
muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alad diinik…
Ya
muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alad da’watik…
Bahkan
salah seorang mengatakan :
Love
is the essence of life (cinta adalah inti sari kehidupan)
Cinta
Allah yang membuat bumi ada
Cinta
Allah yang membuat sang surya bersinar
Cinta
antar manusia yang mambuat hidup tenteram dan nyaman…
Ketika
kita mencintai, tidak ada kata pamrih disana…
Yang
ada hanya memberi tanpa mengharap menerima…
Mirip
seperti itulah menjadi seorang da’i…
Dia
harus siap mengorbankan hidup dan matinya demi dakwah…
Dia
selalu memberi untuk islam, tanpa mengharap menerima untuk setiap kerja
dakwahnya…
Itulah
ikhlas …
Siap
menjadi jundi dan pada saat yang sama siap menjadi qiyadah…
Siap
mengeluarkan utang untuk dakwah…
Siap
mengeluarkan tenaga untuk dakwah…
Bahwa
hubungan ikhwan aktivis dakwah adalah seperti saudara…
Cukup
sampai disana…
Kalaupun
terjadi gangguan hati yang merupakan sunnatullah akibat adanya intensitas,
Tidak
akan melabihi taraf simpati antar kader
Kecuali
Allah menakdirkan kesempatan padanya untuk menyelesaikan setengah agamanya…
Jika
Allah telah menentukan jodoh untuk kita, bahkan sebelum kita lahir,
Mengapa
kita takut menjadi perawan tua dan jejaka jomblo…?
Masih
panjang langkah dakwah kita
Masih
begitu banyak lahan dakwah yang belum kita jamah…
Ada
satu hal yang akan datang dengan sendirinya pada kamu, yaitu jodoh…
Sehingga
jangan sampai hal ini membuat kita ragu akan janji Allah pada kita…
Jangan
sampai dakwah kita berpenyakit hanya karena masalah ini…
Sangat
cengeng dan kekanak-kanakan,
Bila
sampai ada aktivis dakwah yang terjangkiti hal ini (VMJ: Virus Merah Jambu)
Da’wah
adalah sesuatu yang suci….
Qod
aflaha man zakkaha (beruntunglah bagi yang memersihkan diri)
Wa
qod khoba man dassaha (dan celakalah bagi orang yang mengotori dirinya)
Sehingga
orang yang berhak dan akan bertahan dalam jalan ini,
Adalah
orang-orang yang niat ikhlas membersihkan dirinya…
Dan
ikut tabiyah dengan keikhlasan,
Bukan
karena ingin menikah dengan akhwat A atau B atau ikhwan A atau B
Bukan
ingin ketenaran…
Dia berdakwah ingin menuju jannahNya ,
Dia berdakwah ingin menuju jannahNya ,
Bukan
ingin mendapatkan JABATAN, fans atau lainnya …
Ingat
ikhwan wa akhwat fillah,
Untuk
ikhwan…
Bila
kamu istiqomah di jalan dakwah ini,
Bidadari
telah menuggumu di surga nanti…
Untuk
akhwat…
Bila
kamu istiqomah di jalan dakwah ini ,
Kamu
lebih baik dari bidadari yang terbaik yang ada di surga
Kebenaran
hakiki hanya milik Allah…
Back>
Apa keuntungan kita bila berdakwah?. Tanyalah pada dirimu sendiri apa
keuntungannya dengan merasakan qauniyyah-nya. Begitu banyak sekali kemudahan
hidup yang akan kamu temui…..
Entah
mengapa begitu banyak energi yang datang dan abstrak yang telah mengisi tempat
baterai keimanan ini. Entah mengapa selalu ada semangat yang tidak akan habis
walaupun kecewa selalu datang bukan sebagai edisi khusus.Justru kekecewaan
itulah yang telah menjadi energi aktivasi diri ini. Adakah jalan lain yang
lebih membuat hati ini merasa tenteram menjalani hari-hari selain jalan
“memberikan manfaat bagi orang lain”. Apakah kita begitu senang bila biografi
kita hanya dihargai dunia dengan tiga kalimat di batu nisan.
Ada
banyak orang-orang yang berjuang di jalan ini, dengan deviasi keinginan dan
niat yang begitu lebarnya. Spektrum-pun berbicara tentang hal ini. Apakah kita
ingin berterima kasih dengan apa yang telah Allah beri kepada kita?, dengan
cara apa kita berterima kasih?
Aku
pun mendapatkan jawabannya. Pertanyaaan, “kenapa kita harus berdakwah?”, karena
kita menginginkan syurga-Nya.
Rabb,
aku tau bahwa aku masih kurang ilmunya dalam menyampaikan syiarmu. Tapi aku
akan mencari terus SPBU terdekat dalam perjalanan ini. Bukankah yang paling
mulai di sisimu adalah orang yan paling banyak amalnya? (Qs.67:2).
Aku
tak ingin bangun dari suara terompet Israfil sama seperti sewaktu aku bangun
dari bangun tidurku di waktu pagi. Didiklah aku dengan ke-integritas yang telah
engkau tunjuki yang aku berikan nikmat di dalamnya, bukan yang Engkau murkai,
juga Engkau sesatkan. Jadikanlah amalan yaumiahku selalu kuisi dengan Qiyamul
Lail, Witir, Shalat tepat waktu, Shalat berjamaah, Dzikir pagi-petang, murajaah dan
peningkatan hafalan, thilawah, dhuha, shalat hajat, .dan amalan yang Engkau
ridhoi lainnya.
Rabb
jadikanlah air tangisan ini bisa menjadi pelangi di dalam orasiku. Jadikanlah
air tangisanku selalu hadir dan siap aku keluarkan untuk bisa menginspirasi
orang lain.
Rabb,
jadikan hamba menjadi generasi qurani yang menghiasi shalat dengan bacaan
hafalanku. Yang mejadikan quran sebagai landasanku bergerak. Jagalah aibku Ya
Rabb, karena hamba takur sekali bila Engkau hanya menjaga aibku di dunia saja.
Jadikanlah Al-Qur’an sebagai shelter iman ini, saat kekeringan. Saat tidak tau
dimana jalan keluar, bagaimana pemecahannya, saat hamba sedang jatuh ke juran,
dan saat hamba sedang berkhalwat denga-Mu. Jadikanlah Al-Qur’an temanku ya
Rabb, dan pelindungku dari siksa malaikat Munkar dan Nakir.

No comments:
Post a Comment