Dakwah Kampus

Akhlak dan Adab

Lihatlah Siapa Teman Anda


Islam agama yang mulia ini memerintahkan agar kita mencari teman bergaul yang baik, bergaullah dengan mukmin dan hindarilah bergaul dengan orang fasik.

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Janganlah engkau bergaul dengan kecuali dengan seorang mukmin. Janganlah memakan makanannmu melainkan orang bertakwa.” (HR.Abu Dawud, Tirmidzi. Hadits ini hasan kata Syaikh Al Albani.)

Yang dimaksud dengan orang bertakwa adalah orang yang menjadikan antara dirinya dengan keharaman rasa takut pada Allah.

Hadits diatas berisi dua wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Wasiat pertama, perintah bergaul atau bersahabat dengan orang yang mikmin lagi memiliki sifat wara’ (yang menjauhi yang haram). Jangan sampai seorang mukmin bersahabat dengan orang kafir, munafik dan orang kafir, munafik dan orang fasik serta orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya.  Alasan terlarangnya adalah karena dapat memberikan mudhorot atau bahaya untuk dunia dan agamanya.

Wasiat kedua adalah hendaklah makanan yang seorang muslim miliki diberikan pada orang yang bertakwa. Artinya, ia diperintahkan untuk bergaul dengan orang yang bertakwa saat makan. Karena berkumpul saat makan akan menimbulkan rasa cinta dalam hati.

Hadits tersebut memerintahkan pada kita agar bergaul dengan orang yang beriman, bertakwa dan amanat. Dan hendaklah kita menghindari bergaul dengan orang-orang yang rusak, orang kafir dan ahli maksiat, ditambah jika tidak bisa memberikan pengaruh pada mereka.

Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman:
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang penjual minyak wangi dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu, dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.” (Syarh Shahih Muslim 4/227)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadapa baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu ‘Slaihi wa Sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
 “Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Ibnu Qudamah Al Maqdisi Rahimahullah berkata :
 “Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia” (Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).

Kemudian beliau menjelaskan : “Akal merupakan modal utama. Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang bodoh. Karena orang yang bodoh, dia ingin menolongmu tapi justru dia malah mencelakakanmu. Yang dimaksud dengan orang yang berakal adalah orang yang memamahai segala sesuatu sesuai dengan hakekatnya, baik dirinya sendiri atau tatkala dia menjelaskan kepada orang ain. Teman yang baik juga harus memiliki akhlak yang mulia. Karena betapa banyak orang yang berakal dikuasai oleh rasa marah dan tunduk pada hawa nafsunya, sehingga tidak ada kebaikan berteman dengannya. Sedangkan orang yang fasik, dia tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah, tidak dapat dipercaya dan engkau tidak aman dari tipu dayanya. Sedangkan berteman denagn ahli bid’ah, dikhawatirkan dia akan mempengaruhimu dengan kejelekan bid’ahnya. (Mukhtashor Minhajul Qashidin, 2/ 36-37)


Wallahu waliyyutaufiq.

No comments:

Post a Comment

| Designed by Colorlib