Dakwah Kampus

Opini

Ketika BBM Naik


Kenaikan BBM yang diputuskan oleh pemerintah disambut dengan penolakan masyarakat dan amukan berontak mahasiswa di seluruh Indonesia. Kenaikan harga BBM diakui begitu mencekik rakyat terutama rakyat kecil. Sebab jika BBM naik  maka semua harga kebutuhan pokokpun turut naik. Alih-alih mensejahterahkan masyarakat dan berpihak pada masyarakat ternyata justeru menaikkan harga BBM yang akan berdampak pada ancaman kemiskinan, penderitaan yang begitu menyakiti hati masyarakat.

Berbagai aksi penolakan dilancarkan oleh rakyat terutama para mahasiswa. Demonstrasi yang anarki, menutup badan jalan hingga membuat kemacetan dan melumpuhkan lalu lintas. Merusak sarana dan prasarana umum, mahasiswa luka-luka, hingga tewas akibat anarkis adalah potret aksi mahasiswa dalam menyikapi keputusan pemerintah yang ‘tidak pro masyarakat’ kata mereka.

Mahasiswa-mahasiswa yang notabene adalah aktifis dalam organisasi kemahasiswaanpun harus merelakan bolos dari beberapa mata kuliah, mengabaikan tugas-tugas kuliah, demi memperjuangkan ketidak relaan mereka atas kenaikan harga BBM.

Di sisi lain, masyarakat yang menggunakan sarana dan prasarana umum juga merasa  marah pada mahasiswa karena aksi mereka begitu mengganggu aktifitas. Kemacetan yang menghambat produktifitas, pembakaran ban yang menyebabkan polusi di jalan, dan masih banyak lagi arogansi mahasiswa yang dilakukan demi mencari perhatian agar pemerintah mau mendengarkan aspirasi mereka.

Kenapa pemimpin kita memilih jalan menaikkan harga BBM? Apakah betul presiden kita ingin menyengsarakan rakyatnya sendiri?. Tentu tidak. Lantas bagaimana kita menyikapi dan mengkomunikasikannya pada pemerintah? Islam agama yang mulia ini telah mengatur cara berkomunikasi dengan pemimpin dengan baik, sebaiknya inilah yang mahasiswa dan rakyat umum terapkan.
Prinsip agama Islam yang benar yakni Ahlussunnah wal Jama’ah yang meniti jalan para sahabat Rasulullah. Kita tetap mentaati dan manut pada pemerintah selama pemerintah tidak menyuruh kita melakukan kemaksiatan. Ketaatan tetap ada meskipun yang memerintah adalah pemimpin yang zalim, yang mungkin menyengsarakan rakyat. Sebagaimana Sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Aku meberi wasiat kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) dari Habasyah.” (Hadis Sahih Riwayat Tirmidzi)

Hadis yang mewajibkan mentaati penguasa zalim adalah:
“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal).  Nanti aka nada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.”
Sahabat beliau berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”
Beliau bersabda, “Dengarlah dan taat kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu, Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka. (Hadis Sahih Riwayat Muslim)

Kalau memang menganggap menaikkan BBM adalah sebuah kezaliman, mengapa kita tidak indahkan prinsip agama Islam ini sebagai negara yang memiliki mayoritas penduduk Islam. Kenapa begitu tidak bersabar dengan kenaikan harga BBM?

Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Mendengar dan mentaati penguasa kaum muslimin mengandung maslahat dunia, mudahnya urusan hamba, dan bisa menolong hamba dalam melakukan ketaatan.” (Jaami’ul Ulum wal Hikam, 2:117)

Mengenai demonstrasi yang sering terjadi, hendaklah kita melihat bahaya yang ditimbulkan lebih besar dari manfaatnya. Jalanan macet, kerusuhan, korban jiwa, capek menghabiskan tenaga, jelas yang ada adalah kerugian. Kerusakan dibalas dengan kerusakan, maka akan semakin memperbesar kerusakan. Tentu Agama yang mulia ini telah mengatur cara berkomunikasi kepada pemerintah dalam memprotes kebijakannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang hendak menasehati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasehati).” (Hadis Hasan Riwayat Ahmad)

Kesabaran sungguh tiada batasnya. “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran begi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS.Az-Zumar:10)

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS.Alam Nasyroh: 5-6)

Dibalik kesusah ada kemudahan, dibalik kebaikan BBM pasti ada kebahagiaan yang mendekat. Bukankah Allah menjamin rezeki untuk setiap hambanya? Terlepas dari persoalan naik tidaknya BBM. Semoga Allah meberikan kesabaran pada masyarakat kita dalam menghadapi musibah ini, semoga Allah meberi taufik dan hidayah untuk bersabar menghadapi segala musibah, dan semoga Allah memperbaiki keadaan rakyat Indonesia dan pemimpin-pemimpinnya.

-Ria M-

No comments:

Post a Comment

| Designed by Colorlib