Sebagian
kaum muslimin menyingkat shallallahu ‘alaihi
wa sallam dengan “Saw” saja. Apakah hal ini baik dan syar’i?
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam
kitab-Nya yang mulia, yang artinya,“Sesungguhnya
Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai, orang-orang yang
beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya.” (Qs. Al-Ahzaab: 56)
Dalam
ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala
memuliakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi
wa sallam, baik di masa hidup maupun sepeninggal beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kedudukan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di
sisi-Nya dan membersihkan beliau dari tindakan atau pikiran jahat orang-orang
yang berinteraksi dengan beliau.
Yang
dimaksud shalawat Allah adalah puji-pujian-Nya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang dimaksud
shalawat para malaikat adalah do’a dan istighfar. Sedangkan yang dimaksud
shalawat dari ummat beliau adalah do’a dan mengagungkan perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syaikh
Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam kitab Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush
Shalihin Bab Shalawat Kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam).
Disunnahkan
–sebagian ulama mewajibkannya– mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap
kali menyebut atau disebut nama beliau, yaitu dengan ucapan: “shallallahu ‘alaihi wa sallam”
(al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam kitab Sifat Shalawat dan Salam
Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Dalam
sebuah riwayat dari Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
bersabda,
“Orang yang bakhil (kikir/pelit)
itu ialah orang yang (apabila) namaku disebut disisinya, kemudian ia tidak
bershalawat kepadaku shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh Imam
Ahmad bin Hambal no. 1736, dengan sanad shahih)
Syaikh
Salim bin ‘Ied al-Hilali mengatakan bahwa disunnahkan bagi para penulis agar
menulis shalawat kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam secara utuh, tidak disingkat (seperti SAW, penyingkatan dalam bahasa
Indonesia – pent) setiap kali menulis nama beliau.
Al-Ustadz
Abdul Hakim bin Amir Abdat juga mengatakan dalam kitab Sifat Shalawat dan Salam
Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
bahwa disukai apabila seseorang menulis nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bershalawatlah dengan lisan dan
tulisan.
Ketahuilah
saudariku, shalawat ummat kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah bentuk dari sebuah do’a. Demikian pula dengan
makna salam kita kepada sesama muslim. Dan do’a merupakan bagian dari ibadah.
Dan tidaklah ibadah itu akan mendatangkan sesuatu selain pahala dari Allah Jalla wa ‘Ala. Maka apakah kita akan
berlaku kikir dalam beribadah dengan menyingkat salam dan shalawat, terutama
kepada kekasih Allah yang telah mengajarkan kita berbagai ilmu tentang dien
ini?
Saudariku,
apakah kita ingin menjadi hamba-hamba-Nya yang lalai dari kesempurnaan dalam
beribadah?
Wallahu Ta’ala a’lam bish showwab.
Muslimah.Or.Id

No comments:
Post a Comment