Dakwah Kampus

CintaTazkiyah

Sebuah Pengakuan Cinta

SEBUAH PENGAKUAN CINTA


Mengungkap cinta kasih yang tergugah dari hati, berkumandang dalam lantunan bait-bait syair senandung asmara yang semerbak gelora api cinta yang berkobar. Ketika membahas “CINTA” maka kantuk laksana lari terbirit-birit akan kemilaunya sinar cinta. Betapa dahsyatnya cinta itu.

Mungkin tiada yang lebih indah dari cinta, yang bisa membawa perasaan kesisi mana saja. Cinta mampu menaklukkan instrumen kehidupan, menaklukkan akal dan perasaan. Seorang pecinta yang diterpa rindu, derita merenggut tatkala hati menjauh dari sang pujangga. Alangkah mabuknya cinta, berirama dalam senandung langit yang tinggi yang menerbangkan jiwa melayang diatas senyum manis menawan.

YA ALLAH AKU HAMBA-MU MENCINTAIMU..
WAHAI MUHAMMAD RASUL ALLAH, AKU UMMATMU MENCINTAIMU..

Sebuah pengakuan dari seorang hamba “Aku cinta ALLAH” dengan mudah terlisankan. Saking mudahnya orang yang tidak pernah shalatpun mengucapkannya. Mudah diucapkan oleh orang-orang fasik.

Mengapa engkau terus bermaksiat sedangkan engkau berkata Cinta kepada ALLAH?.

Dengan enteng engkau kemudian menjawab,
“ALLAH Maha tahu bahwa aku mencintai-Nya.”

Demi ALLAH, engkau telah berbohong!!. Bagaimana  mungkin engkau mencintai ALLAH sedangkan engkau senantiasa menggumbar lisan yang dimurka ALLAH, menggumbar auratmu, menggumbar hawa nafsu yang dibenci ALLAH!. Jika sekiranya engkau cinta, maka secuil perintah dari ALLAH engkau lahap dengan gesit.

Cinta tidak cukup duingkap dengan kata-kata semata, lantunan mesra yang membawa jiwa melintasi alam maya.

Hati manusia memiliki harapan kepada suatu objek, cinta kepada ALLAH dan Rasul-Nya adalah objek yang paling mulia. Para pecintanya adalah ahli iman dan kebaikan, yang senantiasa menitihkan air mata hingga membasahi pipinya dalam sujud panjangnya disepertiga malam, berkhalwat dengan ALLAH dengan merendahkan kepalanya hingga debu-debu melekat pada dahinya yang kelak menjadi saksi tulus cintanya.

Ketika menyatakan cinta maka segala ketenangan menerpa dirimu. Kicauan burung melantunkan bahasa-bahasa cinta berulang-ulang kali ditaman-taman yang indah. Ketika mencintai ALLAH dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka malaikat-malaikat akan terkesimak menyaksikan hamba yang dengan apiknya mencampakkan perhiasan dunia yang dikejar segerombolan insan, hanya merindukan pertemuan dengan ALLAH. Dunia akan senantiasa menyapanya dengan memberi bingkisan syukur.

Ketika mencintai ALLAH dan Rasul-Nya maka gerak selalu mengharap ridha’-Nya, hati senantiasa memikirkannya dalam nuansa apapun, lisan selalu memuji-Nya, menyatakan cinta dalam lantunan dzikir yang dibisikkan dalam sepi hingga menjatuhkan butiran air mata diliputi gelora rindu dan rasa takut ada dusta. Ketika mencintai Rasul-Nya, maka senantiasa menghidupkan sunnah-sunnahnya meski dalam belitan celaan, merindu akan berjumpa denga manusia terbaik dimuka bumi ini, yang menggenggam tangan menuju alam terang bertabur bintang.
Tiada senandung yang lebih indah dimuka bumi selain lantunan adzan yang berisi penyaksian cinta kasih yang menggetarkan dunia.

Ada rona bahagia dipelupuk mata, yang mampu meruntuhkan pilu derita. Cinta ini bukan nafsu, bukanlah isu, apalagi pilu. Cinta kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa adalah cinta yang mutlak tulus dari dasar hati, yang bahkan hembusan nafas ‘tak tahu apa alasannya, bahkan denting waktu ‘tak tahu kapan memulainya.

Wahai jiwa! Hati-hatilah dengan dunia yang mempesona, yang bisa membutakan cinta suci nan mulia!. Hati-hatilah pada hamparan tanah  beserta isinya yang fana akan hancur ditelan masa. Dan lihatlah masa depan disana, iman datang menggenggam tangan menuju kehidupan yang abadi. Raihlah iman itu! Cintailah ALLAH dan Rasul-Nya.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS: Ali-Imran:14)

Umar radiallahu anha berkata,

   “Demi ALLAH, ya Rasulullah sesungguhnya engkau adalah orang yang paling aku cintai dari segala-galanya kecuali diriku.”
Mendengar ucapan itu Rasulullah menanggapi,
   “Tidak, demi jiwaku yang berada ditangan-Nya, sampai aku lebih menjadi orang yang paling engkau cintai melebii dirimu sendiri.”
Umar lantas berujar,
  “Demi ALLAH ya Rasulullah, engkau adalah orang yang paling kucinta dari diriku sendiri, inilah puncak dari cinta.”
Rasulullah kemudian berkata,
   “Sekarang wahai Umar (telah sempurna imanmu).”

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”, beliau bersabda: “Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat”, orang tersebut menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”, beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai” (HR. Muslim)

Cinta kepada ALLAH adalah orientasi hidup yang paling agung, dan prestasi ibadah yang paling tinggi..

No comments:

Post a Comment

| Designed by Colorlib