Kebanyakan manusia menilai hina dan mulianya orang menurut
dari takaran hartanya, meski tidak dilisankan, namun dapat terlihat dari respon
seseorang.
Itulah manusia kebanyakan, merasa beruntung jika punya
banyak harta dan merasa buntung jika jadi miskin.
"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu
dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah
memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya
maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". (QS: Al-Fajr:15-16)
Akan tetapi, opini manusia itu, disanggah langsung oleh
Allah dalam ayat berikutnya,
"Kalla.." sekali-kali
tidak demikian.
Mulia dan hinyanya seseorang tidak dilihat dari takaran
hartanya, melainkan tingkat ketakwaannya kepada Allah SWT.
Boleh jadi, Allah menghinakan suatu kaum dengan
kekayaannya, atau memuliakan suatu kaum dengan kemiskinannya. Orang kaya bisa
hina namun bisa juga mulia, begitupun orang miskin. Sesuai bagaimana mereka
menjalani ujiannya.
Tidak sepatutnya orang yang fakir merasa terhina, selama
dirinya tidak jatuh kedalam rayuan setan dan nafsu.
perbanyaklah bersyukur kepada Allah, ridha' atas segala
karunia yang diberikan dariNya.
"Hendaklah engkau ridha atas karunia Allah kepadamu,
niscaya engkau menjadi manusia paling kaya." (HR.Tirmidzi)

Penderitaan hanyalah sementara, simaklah sabda Rasulullah berikut ini:
"Dan
akan didatangkan pada Hari Kiamat seorang penghuni jannah yang dahulunya paling
menderita didunia, lalu dicelup dengan sekali celupan di jannah, lantas
ditanyakan kepadanya, "Wahai anak Adam, apakah kamu pernah menderita?
Apakah kamu pernah sengsara?" Dia menjawab "Tidak, demi Allah, saya
belum pernah merasakan penderitaan atau kesengsaraan sedikitpun." (HR. Muslim)
Jadi,
kekayaan didunia itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kebahagiaan
di Syurga yang tiada tara. Subhanallah..
Sesungguhnya
kekayaan itu sama dengan kemiskinan, sebagai UJIAN, simak sabda
Rasulullah berikut:
"Sesungguhnya
setiap umat itu menghadapi fitnah, dan fitnah bagi umatku adalah
harta." (HR. Tirmidzi)
Harta
boleh jadi membeli neraka, karena terlena dengan kenikmatan dunia, maka lupa
dengan ketaatan kepada Allah, boleh jadi melahirkan sifat sombong, angkuh, dan
sebagainya.
"Akan
didatangkan pada Hari Kiamat, penduduk neraka yang dahulunya mengenyam paling
banyak kenikmatan dunia, lalu dicelup dengan sekali celupan dineraka, lalu
dikatakan kepadanya, "Wahai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan
kenyamanan? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?" Ia menjawab,
"Demi Allah, belum pernah wahai Rabbi." (HR. Muslim)
Kekayaan itu bukanlah ukuran kemuliaan, bahkan kekayaan itu lebih berpeluang
besar lebih menyimpang.
Namum
sesungguhnya, pernyataan tersebut bukanlah karena salah menjadi orang kaya,
tetapi karena ketamakan orang dalam mengejarnya hingga melalaikan kewajibannya.
Bagi
orang yang bersyukur, harta bisa jadi sarana untuk mengejar keutamaan. Dia bisa
menjalani ketaatan sebagaimana juga orang fakir, dan dia memiliki kelebihan
lain yang tidak dimiliki oleh orang fakir yaitu "Sedekah".
Itulah sebaik-baik orang kaya.
Bagaimanapun
kondisi kita, tergantung dari ikhtiar kita untuk tetap istiqomah dijalan-Nya.
No comments:
Post a Comment