Masya Allah, anti sudah hafal 5 juz
???
Hmmm…
Secara
fitrah manusia, pastilah senang jika dirinya dipuji. Saat pujian datang
-apalagi dari seseorang yang istimewa dalam pandangannya- tentulah hati akan
bahagia jadinya. Berbunga-bunga, bangga, senang. Itu manusiawi. Namun
hati-hatilah duhai saudariku, jangan sampai riya’ menghiasi amal ibadah kita
karena di setiap amal ibadah yang kita lakukan dituntut keikhlasan.
Niat yang ikhlas amatlah diperlukan dalam setiap amal ibadah karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal di sisi Allah. Sebuah niat dapat mengubah amalan kecil menjadi bernilai besar di sisi Allah dan sebaliknya, niatpun mampu mengubah amalan besar menjadi tidak bernilai sama sekali.
Kali ini, kita tidak hendak membahas tentang ikhlas
melainkan salah satu lawan dari ikhlas, yaitu riya’.
Hudzaifah Ibnu Yaman pernah berkata:
“Orang-orang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam tentang hal-hal yang baik sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang
hal-hal jelek agar aku terhindar dari kejelekan tersebut.” (HR Bukhari dan
Muslim)
Maka saudariku muslimah, marilah kita mempelajari
tentang riya’ agar kita terhindar dari kejelekannya.
Mari Kita Berbicara tentang Riya’
Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ru’yah
(الرّؤية), maknanya penglihatan. Sehingga menurut bahasa arab hakikat riya’
adalah orang lain melihatnya tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya.
Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan, “Riya’ ialah
menampakkan ibadah dengan tujuan agar dilihat manusia, lalu mereka memuji
pelaku amal tersebut.”
Pernahkah ukhti mendengar tentang sum’ah? Sum’ah
berbeda dengan riya’, jika riya’ adalah menginginkan agar amal kita dilihat
orang lain, maka sum’ah berarti kita ingin ibadah kita didengar orang lain.
Ibnu Hajar menyatakan: “Adapun sum’ah sama dengan riya’. Akan tetapi ia
berhubungan dengan indera pendengaran (telinga) sedangkan riya’ berkaitan
dengan indera penglihatan (mata).”
Jadi, jika seorang beramal dengan tujuan ingin
dilihat, misalnya membaguskan dan memperlama shalat karena ingin dilihat orang
lain, maka inilah yang dinamakan riya’. Adapun jika beramal karena ingin
didengar orang lain, seperti seseorang memperindah bacaan Al Qur’annya karena
ingin disebut qari’, maka ini yang disebut sebagai sum’ah.
Bahaya Riya’
Ketahuilah wahai saudariku, bahwa riya’ termasuk ke
dalam syirik asghar/kecil. Ia dapat mencampuri amal kita kemudian merusaknya.
Amalan yang dikerjakan dengan ikhlas akan mendatangkan
pahala. Lalu bagaimana dengan amalan yang tercampur riya’? Tentu saja akan
merusak pahala amalan tersebut. Bisa merusak salah satu bagiannya saja atau
bahkan merusak keseluruhan dari pahala amalan tersebut.
Berikut ini beberapa bentuk riya’:
1. Riya’ yang mencampuri amal dari awal
hingga akhir, maka amalannya terhapus.
Misalnya seseorang yang hendak
mengerjakan shalat lalu datang seseorang yang ia kagumi. Kemudian ia shalat
dengan bagus dan khusyu’ karena ingin dilihat orang tersebut. Riya’ tersebut
ada dari awal hingga akhir shalatnya dan ia tidak berusaha untuk
menghilangkannya, maka amalannya terhapus.
2. Riya’ yang muncul tiba-tiba di
tengah-tengah amal dan dia berusaha untuk menghilangkannya sehingga riya’
tersebut hilang, maka riya’ ini tidak mempengaruhi pahala amalannya. Misalnya
seseorang yang shalat kemudian muncul riya’ di tengah-tengah shalatnya dan ia
berusaha untuk menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’
tersebut tidak mempengaruhi ataupun merusak pahala shalat tersebut.
3. Riya’ muncul tiba-tiba di
tengah-tengah namun dibiarkan terus berlanjut, maka ini adalah syirik asghar
dan menghapus amalannya. Namun dalam kondisi ini ulama berselisih pendapat
tentang amalan mana yang terhapus, misalnya riya’ dalam shalat. Apakah rakaat
yang tercampuri riya’ saja yang terhapus ataukah keseluruhan shalatnya?
Pendapat pertama menyatakan bahwa yang terhapus
hanyalah pada amalan yang terkait. Pendapat kedua, yaitu perlu dirinci:
1. Kalau amalannya merupakan satu
rangkaian dan tidak mungkin dipisahkan satu dengan yang lain, misalnya shalat
dhuhur empat rakaat, maka terhapus rangkaian amal tersebut.
2. Jika amalannya bukan merupakan satu
rangkaian, maka amal yang terhapus pahalanya adalah sebatas yang tercampuri
saja. Misalnya seseorang yang bersedekah kepada sepuluh orang anak yatim. Saat
bersedekah pada anak kesatu sampai yang kelima ia ikhlas. Akan tetapi riya’
muncul saat ia bersedekah pada anak ke-enam, maka pahala yang terhapus adalah
sedekah pada anak ke-enam. Contoh yang serupa adalah puasa.
Riya’ itu Samar
Pada asalnya, manusia memiliki kecenderungan ingin
dipuji dan takut dicela. Hal ini menyebabkan riya’ menjadi sangat samar dan
tersembunyi. Terkadang, seorang merasa telah beramal ikhlas karena Allah, namun
ternyata secara tak sadar ia telah terjerumus kedalam penyakit riya’.
Saudariku, pernahkah engkau mendengar langkah laki
seekor semut? Suara langkahnya begitu samar bahkan tidak dapat kita dengar.
Seperti inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kesamaran
riya’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kesyirikan itu lebih samar dari langkah kaki semut.”
Lalu Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kesyirikan itu ialah
menyembah selain Allah atau berdoa kepada selain Allah disamping berdoa kepada
selain Allah?” maka beliau bersabda.”Bagaimana engkau ini. Kesyirikan pada
kalian lebih samar dari langkah kaki semut.” (HR Abu Ya’la Al Maushili dalam
Musnad-nya, tahqiq Irsya Al Haq Al Atsari, cetakan pertama, tahun 1408 H,
Muassasah Ulum Al Qur’an, Beirut, hlm 1/61-62. dishahihkan Al Albani dalam
Shahih Al Targhib, 1/91)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan
bahaya riya’ atas umat Islam melebihi kekhawatiran beliau terhadap bahaya
Dajjal. Disebutkan dalam sabda beliau: “Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang
lebih aku takutkan menimpa kalian daripada Dajjal.” Kami menyatakan, “Tentu!”
beliau bersabda “Syirik khafi (syirik yang tersembunyi). Yaitu seseorang
mengerjakan shalat, lalu ia baguskan shalatnya karena ia melihat ad seseorang
yang memandangnya.”
Hal ini tidak akan terjadi, kecuali karena faktor
pendukung yang kuat. Yaitu karena setiap manusia memiliki kecenderungan ingin
mendapatkan pujian, kepemimpinan dan kedudukan tinggi di hadapan orang lain.
Bentuk Riya’
Wahai ukhti muslimah, didalam mencapai tujuannya, para
mura’i (orang yang riya’) menggunakan banyak jalan, diantaranya sebagai
berikut:
- Dengan tampilan fisik, yaitu seperti menampilkan fisik yang lemah lagi pucat dan suara yang sangat lemah agar dianggap sebagai orang yang sangat takut akhirat atau rajin berpuasa.
- Dengan penampilan, yaitu seperti membiarkan bekas sujud di dahi dan pakaian yang seadanya agar tampil seperti ahli ibadah. Ketika menjelaskan QS Al Fath, dalam Hasyiah Ash Shawi 4/134 disebutkan, “Yang dimaksud ‘bekas sujud’ bukanlah hitam-hitam di dahi sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang ingin riya’ karena hitam-hitam di dahi merupakan perbuatan khawarij.”
- Dengan perkataan, yaitu seperti banyak memberikan nasehat, menghafal atsar (riwayat salaf) agar dianggap sebagai orang yang sangat memperhatikan jejak salaf.
- Dengan amal, yaitu seperti memperlama rukuk dan sujud ketika shalat agar tampak khusyu’ dan lain-lain.
Kiat Mengobati Penyakit Riya’
Wahai saudariku, setiap insan tidak akan pernah lepas
dari kesalahan. Sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang
bertaubat kepada Allah atas kesalahan yang pernah dilakukannya.
Hati manusia cepat berubah. Jika saat ini beribadah
dengan ikhlas, bisa jadi beberapa saat kemudian ikhlas tersebut berganti dengan
riya’. Pagi ikhlas, mungkin sore sudah tidak. Hari ini ikhlas, mungkin esok
tidak. Hanya kepada Allahlah kita memohon agar hati kita diteguhkan dalam agama
ini.
Selain itu, hendaknya kita berusaha untuk menjaga hati
agar terhidar dari penyakit riya’. Saudariku, inilah beberapa kiat yang dapat
kita lakukan agar terhindar dari riya’:
1. Memohon dan selalu berlindung
kepada Allah agar mengobati penyakit riya’
Riya’ adalah penyakit kronis dan berbahaya. Ia
membutuhkan pengobatan dan terapi serta bermujahadah (bersungguh-sungguh)
supaya bisa menolak bisikan riya’, sambil tetap meminta pertolongan Allah
Ta’ala untuk menolaknya. Karena seorang hamba selalu membutuhkan pertolongan
dan bantuan dari Allah. Seorang hamba tidak akan mampu melakukan sesuatu
kecuali dengan bantuan dan anugerah Allah. Oleh karena itu, untuk mengobati
riya’, seorang selalu membutuhkan pertolongan dan memohon perlindungan
kepada-Nya dari penyakit riya’ dan sum’ah. Demikian yang diajarkan Rasulullah
dalam sabda beliau:
“Wahai sekalian manusia, peliharalah diri dari
kesyirikan karena ia lebih samar dari langkah kaki semut.” Mereka bertanya,
“Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami memelihara diri darinya padahal ia lebih
samar dari langkah kaki semut?” beliau menjawab, “Katakanlah:
اللّهُمَّ إِنَّانَعُوْذُبِكَ مِنْ أََنْ نُشْرِكَ بِكَ
شَيْئًانَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُ
‘Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan
syirik yang kami ketahui. Dan kami mohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak
kami ketahui.’” (HR. Ahmad)
2. Mengenal riya’ dan berusaha
menghindarinya
Kesamaran riya’ menuntut seseorang yang ingin
menghindarinya agar mengetahui dan mengenal dengan baik riya’ dan penyebabnya.
Selanjutnya, berusaha menghindarinya. Adakalanya seorang itu terjangkit
penyakit riya’ disebabkan ketidaktahuan dan adakalanya karena keteledoran dan
kurang hati-hati.
3. Mengingat akibat jelek perbuatan
riya’ di dunia dan akhirat
Duhai saudariku di jalan Allah, sifat riya’ tidaklah
memberikan manfaat sedikitpun, bahkan memberikan madharat yang banyak di dunia
dan akhirat. Riya’ dapat membuat kemurkaan dan kemarahan Allah. Sehingga
seseorang yang riya’ akan mendapatkan kerugian di dunia dan akhirat.
4. Menyembunyikan dan merahasiakan
ibadah
Salah satu upaya mengekang riya’ adalah dengan
menyembunyikan amalan. Hal ini dilakukan oleh para ulama sehingga amalan yang
dilakukan tidak tercampuri riya’. Mereka tidak memberikan kesempatan kepada
setan untuk mengganggunya. Para ulama menegaskan bahwa menyembunyikan amalan
hanya dianjurkan untuk amalan yang bersifat sunnah. Sedangkan amalan yang wajib
tetap ditampakkan. Sebagian dari ulama ada yang menampakkan amalan sunnahnya
agar dijadikan contoh dan diikuti manusia. Mereka menampakkannya dan tidak
menyembunyikannya, dengan syarat merasa aman dari riya’. Hal ini tentu tidak
akan bisa kecuali karena kekuatan iman dan keyakinan mereka.
5. Latihan dan mujahadah
Saudariku, ini semua membutuhkan latihan yang terus
menerus dan mujahadah (kesungguhan) agar jiwa terbina dan terjaga dari
sebab-sebab yang dapat membawa kepada perbuatan riya’ bila tidak, maka kita
telah membuka pintu dan kesempatan kepada setan untuk menyebarkan penyakit
riya’ ini ke dalam hati kita.
BELAJAR DARI PARA SALAF
Duhai muslimah, berikut ini adalah kisah salaf yang
menunjukkan betapa mereka menjaga diri dari riya’ dan sum’ah. Mereka tidak
menginginkan ketenaran dan popularitas. Justru sebaliknya, mereka ingin agar
tidak terkenal. Mereka memelihara keikhlasan, mereka takut jika hati mereka
terkena ujub (bangga diri).
Abu Zar’ah yahya bin Abu ‘Amr bercerita: Pernah
Adh-Dhahhak bin Qais keluar untuk memohon hujan bersama-sama dengan
orang-orang, tapi ternyata hujan tidak turun dan beliau juga tidak melihat
awan. Beliau berkata: “Dimana gerangan Yazid bin Al Aswad?” (dalam satu
riwayat: tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan beliau. Beliau pun bertanya
lagi: “Dimana Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi? Jika beliau mendengar, saya sangat
berharap beliau berdiri.”) “Ini saya”, seru Yazid. “Berdirilah dan tolonglah
kami ini di hadapan Allah. Jadilah kamu perantara(*) kami agar Allah menurunkan
hujan kepada kami.”, kata Adh-Dhahhak bin Qais. Kemudian Yazid pun berdiri
seraya menundukkan kepala sebatas bahu serta menyingsingkan lengan baju beliau
kemudian berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu ini memohon syafaatku
kepada-Mu.” Beliau berdoa tiga kali dan seketika itu pula turunlah hujan yang
sangat deras sehingga hampir terjadi banjir. Kemudian beliau pun berkata:
“Sesungguhnya kejadian ini membuat saya dikenal banyak orang. Bebaskanlah saya
dari keadaan seperti ini.” Kemudian hanya berselang satu hari, yaitu Jum’at
setelah peristiwa itu beliau pun wafat. (Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al
Fasawi (2/239-pada penggal yang terakhir). Atsar ini shahih).
(*) Dalam keadaan ini, meminta perantara dalam berdo’a
diperbolehkan, karena Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi yang menjadi perantara
masih dalam keadaan hidup, dan beliau adalah seorang yang shaleh. Bedakan
dengan keadaan orang-orang yang berdo’a meminta kepada orang yang dianggap
shaleh yang sudah meninggal dunia di kubur-kubur mereka! dan ini merupakan
Syirik Akbar yang membuat pelakunya kekal di neraka jika belum bertaubat. -ed
Berkata Hammad bin Zaid rahimahullah: “Saya pernah
berjalan bersama Ayyub tapi beliau melewati jalan-jalan yang membuat diriku
heran dan bertanya-tanya kenapa beliau sampai berbuat seperti ini
(berputar-putar melewati beberapa jalan). Ternyata beliau berbuat seperti itu
karena beliau tidak mau orang-orang mengenal beliau dan berkata: ‘Ini Ayyub,
ini Ayyub! Ayyub datang, Ayyub datang!’” (Riwayat Ibnu Sa’ad dan lainnya).
Hammad berkata lagi: “Ayyub pernah membawa saya
melewati jalan yang lebih jauh, maka sayapun berkata: ‘Jalan ini lebih dekat!’
Beliau menjawab: ‘Saya menghindari kumpulan orang-orang di jalan tersebut.’ Dan
memang apabila dia memberi salam, akan dijawab oleh mereka dengan jawaban yang
lebih baik dari jawaban kepada yang lainnya. Dia berkata: ‘Ya Allah
sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkannya! Ya Allah
sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkannya!’” (Riwayat Ibnu
Sa’ad (7/248) dan Al Fawasi (2/239-pada penggal yang terakhir). Atsar ini
shahih).
Kita berlindung kepada Allah dari penyakit riya’.
Semoga Allah menjadikan kita seorang mukhlishah, senantiasa berusaha untuk
menjaga niat dari setiap amalan yang kita lakukan. Innamal ‘ilmu ‘indallah.
Wa’allahu a’lam.
--------------------
Maraji’:
Terjemah Sittu Duror, Landasan
Membangun Jalan Selamat. ‘Abdul Malik Ahmad Ramdhani. Media Hidayah. Cetakan
pertama. 2004.
Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh
Muhammad At Tamimi. Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam. Cetakan pertama. LBIA Al
Atsary.
Majalah As-Sunnah edisi 05/ VIII/
1425H/ 2004M.
Muslimah.or.id

No comments:
Post a Comment