Berangkat dari
realita lingkungan sosial, kerap kali kita merasa aneh dengan makna
“Solidaritas Tanpa Batas”, sebenarnya apa maksud dari jargon anak muda ini?
Mengatas namakan solidaritas, menghalalkan ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan) yang pada gilirannya membuka pintu khalwat (berdua-duaan) pandang-pandangan, sentuh-sentuhan, hingga maksiat kelas atas!. Menghalalkan mencontek bersama, tawuran bersama, demo bersama, bolos bersama, bohong bersama, korupsi bersama, lalai bersama, rusak bersama, wal iyadzu billah.
Kepekaan antar remaja untuk saling membantu baik positif maupun
negatif! Itulah tanggapan mereka tentang solidaritas. Dicampur aduk tanpa
filter. Mungkin karena kurangnya pemahaman dan kesadaran, yang terlihat adalah
semangat juang yang membara. Tidak dilandasi syari’at, yang ada adalah semangat
bercampur ‘kebebasan berkespresi katanya’ yang berbuntut keberantakan. Kok
mereka tidak menyadarinya ya? Dimanakah hati dan fikiran? Hmm.
Masih pantaskah kita
menyebutnya sebagai solidaritas?
Sekiranya
solidaritas itu dalam hal ukhuwah fillah, kerjasama, cinta, kasih sayang,
tolong menolong, menasihati dalam hal kebaikan dan kesabaran yang tidak
bertentangan dengan syari’at itulah sebenar-benarnya solidaritas dan insya
Allah indah dan dijaga oleh Allah subhanah wata’ala.
Sayangnya solidaritas
yang kerap diagungkan pemuda saat ini cenderung kepada kenakalan remaja, yang
hanya mengakibatkan kerusakan diri dan kerusakan generasi. Ada banyak pergeseran-pergeseran
dizaman fitnah ini, termasuk makna “solidaritas.”
“Dan
tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah,
sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah: 2)
Tanamkanlah kesadaran
bahwa tolong menolong dalam hal keburukan bukanlah sebuah kesolidan melainkan
merusak teman dari belakang. Bukankah itu sebuah kemunafikan? Wahai saudaraku,
ketahuilah bahwa pelaku maksiat tidak akan menenangkan jiwamu. Jika kesenangan
itu menghalangi kamu dari mengingat Allah maka berhentilah mengerjakan
perbuatan itu.
“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan
kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan
menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari
mengerjakan perbuatan itu).” (QS. Al-Maidah: 91)
Sungguh kelak segala yang kita perbuat
akan dimintai pertanggung jawabannya.
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di
hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa
dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan
dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu
yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)
Sekarang cobalah mengoreksi diri kita sendiri, sudahkah kita mengisi
masa muda kita untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah
subhanahu wata’ala? Ataukah kita isi masa muda kita dengan perbuatan maksiat
yang mendatangkan kemurkaan-Nya?
Wahai para pemuda, senantiasa iblis, setan, dan bala tentaranya berupaya
untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada Allah
subhanahu wata’ala, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi
temannya di neraka. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala jelaskan dalam
firman-Nya:
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia
musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya
mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)
Setiap amalan kejelekan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil
pasti akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti
engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan. Allah
subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 8)
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 8)
Setan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini,
umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa
ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah
subhanahu wata’ala, itu merupakan wujud solidaritas dan kekompakan. Sekali-kali
tidak, justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai menjadi musuh yang
paling engkau benci.
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Sesungguhnya, “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Dunia beserta perhiasan-perhiasannya hanyalah fatamorgana yang dengannya
Allah menguji kita, siapakah diantara kita yang paling bertaqwa. Hanyalah
persoalan waktu wahai saudaraku. Hanyalah penangguhan yang membuat kita tetap
hidup didunia ini dan tetap menikmati perhiasan-perhiasannya. Dan ketahuiah,
kehidupan sebenarnya adalah negeri akhirat. Sungguh 1000 tahun didunia bagai 1
hari diakhirat, sadarilah waktu yang kita miliki hanya singkat. Maukah kita
menggunakannya untuk kelalaian? Sedangkan hidup didunia hanya sekali dan apa
yang telah kita perbuat akan dipertanggung jawabkan.
Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala
perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus
dijalankan oleh setiap hamba Allah.
Wahai para pemuda, bertaqwalah kalian kepada
Allah subhanahu wata’ala. Mungkin hari ini kita sedang berada di tengah-tengah
orang-orang yang sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura dengan berbagai bentuk
maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi keesokan harinya kita akan
menangis menyesali betapa tiada gunanya perbuatan kita.
Solidaritas yang hakiki adalah ukhuwah yang dibangun atas dasar tauhid, Iman kepada Allah. Mengharap keridhaan
Allah dan takut akan adzab Allah. Dekaplah kesolidan dengan niat karena Allah. Bertemanlah
dengan mereka yang bisa mengingatkanmu dikala lupa, yang senantiasa menjaga
keistiqomahan, yang senantiasa menyibukkan dirinya dalam hal kebaikan, yang
giat dalam beramal shaleh. Dekaplah tangan mereka, saudara-saudaramu agar tidak
jatuh dalam liang dosa. Insya Allah ukhuwah kita akan dijamin oleh Allah. Syari’at
adalah aturan yang dengannya akan indah dan harmoni, syari’at bukan penjara
yang membatasi namun memiliki nilai ibadah disis-Nya, memiliki hikmah darinya,
dan manfaatnya kembali kepada kita sendiri. Keteraturan dan keselarasanpun akan
terjadi. Namun, kita tidak akan mengerti syari’at jika tak paham ilmu. Maka
wahai saudaraku, giatlah menimba ilmu agama karena ibadah yang benar dibangun
diatas ilmu.
“Barangsiapa
merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”
(HR. Muslim)
Semoga Allah merahmati, memberkahi ukhuwah kita. Wallahu a’lam

No comments:
Post a Comment