Download tulisan ini dalam media Digital Buletin ObeyArts, Klik Di sini!
Sang suami berpayah-payah mengais nafkah untuk keluarganya di pagi hari hingga petang, terkadang beradu di malam hari, ada kalanya hari libur menjadi hari kerja. Namun sang istri dengan tangan ringan dan manja menyia-nyiakan apa yang telah ditabung dengan peluh keringat sang suami, dalam waktu yang begitu singkat dan bahkan sekejap mata.
Sang wanita melihat tetangga dan teman sejawatnya memilki pakaian dan hijab yang indah, ia juga ingin. Sang wanita melihat tas dan sepatu yang kekinian, ia juga ingin. Sang wanita melihat smartphone baru, lagi-lagi merasa ingin. Sang wanita melihat peralatan dapur, kosmetik, ini, itu, dan anu, ia juga ingin. Hingga rumah dan penampilan diri menjadi serba ada.
Sang suami yang malang hanya bisa memandang uang yang dikumpulkannya dengan peluh dan keringat perlahan-lahan melayang dari tangan sang istri. Bila sang suami tak memberi maka senjata air mata sang istri akan menenggelamkannya. Bila sang suami menjelaskan maka sang istri meluncurkan segala keluhnya meruntuhkan penjelasan sang suami.
Alangkah malangnya sang suami. Ia berikhtiar membanting tulang mencari karunia Allah namun memiliki istri yang enggan bersyukur dan enggan mengobati segala obsesinya dalam mengoleksi perbendaharaan dunia. Jika Allah menakdirkan rizki yang dibawa pulang sang suami hanya sedikit maka sang istri akan bermuka masam dan bermuram durja; dahinya berkerut, selalu jengkel dan tak terima kenyataan.
Menghamburkan Harta Akibatkan Malapetaka Rumah Tangga
Tidak bersyukur pada pemberian suami dan bertingkah boros dapat mengakibatkan malapetaka dalam prahara rumahtangga. Mungkin hari ini belum, entah sampai kapan sang suami memelihara kesabarannya dan mengekang titah amarahnya.
Betapa banyak kisah pertengkaran yang berujung pada perceraian dan permusuhan yang bermula dari harta. Memiliki istri yang pandai bersyukur dan bersabar adalah kebahagiaan bagi sang suami, sebaliknya istri yang tidak pernah merasa puas dan boros adalah kekhawatiran dan ujian luar biasa bagi sang suami. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“..Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (HR. Bukhari, Muslim)
Sang istri hendaknya merenungkuan, bahwa jika ia membiarkan kerakusannya dan enggan mengobatinya maka sungguh selamanya ia tidak akan pernah merasa puas sebanyak apapun hartanya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,
"Kalau seandainya anak Adam memiliki dua lembah dari harta, pasti dia menginginkan lembah yang ketiga, dan tidak akan memenuhi rongganya melainkan tanah (kematian), dan Allah akan mengampuni bagi siapa yang mau bertaubat." (HR. Bukhari, Muslim)
Menghamburkan Harta Adalah Saudara Syaithan
Selain itu, sikap menghabur-hamburkan harta adalah sikap yang dibenci dan dilarang Allah, karena ia adalah sikap saudara syaithan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al-Isra’: 26-27)
Ketika Iblis mengerti nilai syukur bahwa ia adalah amalan hati yang tinggi dan mulia, Iblis pun mencanangkan tujuan akhirnya adalah mengusahakan terputusnya manusia dari rasa bersyukur. Allah Ta'ala menjelaskan ucapan Iblis kepada-Nya,
"Lalu aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari samping kanan, dan dari samping kiri. Sehingga Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (QS. Al-A'raf:17)
Tidak Puas Pada Rizki Mengundang Adzab Allah
Sungguh Allah menjadikan tambahan rizki bergantung pada kesyukuran seorang hamba. Sebaliknya, sikap kufur pada rizki yang telah Allah tetapkan akan mengundang kemarahan dan turunnya adzab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim:7)
Bermegah-megahan Membuat Lupa Diri
Orang-orang yang mabuk harta menganggap bahwa seperti itulah hidup seutuhnya. Ia menganggap bahwa tolak ukur kenikmatan berdasarkan materi. Ia menggadaikan kebahagiaan akhirat dengan kemewahan dunia yang tidak lebih berharga dari sayap lalat. Orang yang rakus harta menjadikannya lalai dan lupa diri hingga ia tidak menyadari Allah mencabut ruhnya ditengah semangatnya bermegah-megahan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (dari ketaatan) sampai kamu masuk ke dalam kubur." (QS. At-Takatsur:1-2)
Mencari Rizki Adalah Ibadah, Hasilnya Urusan Allah
Tugas kita bukanlah menuntut rizki dan bermuluk cita memiliki, melainkan menyiapkan jawaban dari mana dan untuk apa karunia yang telah Allah beri. Betapa banyak seseorang mengumpulkan harta benda hari ini padahal esok pagi semuanya ditinggal mati. Betapa banyak seseorang mengoleksi fasilitas hidup namun lupa bahwa semua hanya sementara yang halalnya akan dihisab, dan haramnya akan diadzab.
Tidaklah patut seorang istri menghamburkan harta dan menuntut lebih dari penghasilan sang suami, karena mencari rizki adalah ikhtiar, dan ia merupakan ibadah. Adapun hasilnya, ia adalah urusan Allah, ia adalah takdir yang telah Allah tetapkan. Tugas seorang suami hanya menempuh sebab, tugas seorang istri mengerti dan memenej hati untuk bersyukur dan bersabar atas tiap nikmat yang Allah beri, sedikit atau pun banyak. Dan nikmat bukanlah tentang angka demi angka dan koleksi demi koleksi.
Wahai Wanita, Milikilah Sikap Qana'ah
Andai saja sang istri mau tenang dan mengobati segala obsesinya yang menggunung dengan bersikap qana'ah (merasa puas, merasa cukup, rela) niscaya rumahtangga akan tenang, hati menjadi bahagia, dan berbuah pahala.
Sungguh dalam kerakusan dan ketamakan itu ada kehinaan dan kesusahan karena dia tidak pernah merasa puas dan cukup terhadap pemberian Allah. Adapun dengan bersikap qana'ah, ada kemuliaan dan ketentraman hati karena merasa tercukupi, ada kesabaran, merasa puas, tidak berkeluh kesah yang semua itu akan mendatangkan keridhaan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Sungguh dalam kerakusan dan ketamakan itu ada kehinaan dan kesusahan karena dia tidak pernah merasa puas dan cukup terhadap pemberian Allah. Adapun dengan bersikap qana'ah, ada kemuliaan dan ketentraman hati karena merasa tercukupi, ada kesabaran, merasa puas, tidak berkeluh kesah yang semua itu akan mendatangkan keridhaan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rizki yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawi)
Hendaknya dalam masalah dunia kita melihat orang yang di bawah kita, dan hendaknya dalam urusan akhirat lihatlah orang yang di atas kita. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)
Milikilah sikap qana'ah di segala kondisi; baik saat lapang maupun saat sempit. Saat lapang hendaknya kita menjadi seorang dermawan yang senantiasa ringan tangan dalam memberi, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam bersedekah tangannya lebih ringan dari angin yang berhembus. Saat sedang sempit hendaknya kita merasa cukup, sabar dan bersyukur, sebab masih begitu banyak nikmat-nikmat Allah yang tak ternilai harganya dan luput untuk kita syukuri.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita sikap qana'ah dan jauh dari sifat menghambur-hamburkan harta.
اللّهمّ قنّعني بما رزقتني و با رك لي فيه ، و ا خلف على كلّ غا ئبة لي بخير
“Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah terhadap apa yang telah engkau rizkikan kepadaku, dan berikanlah berkah kepadaku di dalamnya, dan jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan lebih baik.” (HR. Al-Hakim)
Wallahu a'lam bish shawab.
--------
Note: Repost, tulisan ini telah terbit di Majalah Sedekah Plus. Hanya merepost saja sebagai dokumentasi.

No comments:
Post a Comment