Boleh tidaknya perayaan pergantian tahun tak hentinya jadi
polemik di umat muslim. Mengapa umat muslim? mengapa non muslim tidak?.
Nah itulah spesialnya agama kita. Karena agama punya pedoman, dan pedoman kita
adalah al-Qur'an dan Sunnah. Senantiasa ada hamba-hamba yang berusaha menjaga kemurnian syariat Islam.
Agama kita bukan asal suka asal happy.
Agama kita bukan dari pendapat pribadi-pribadi.
Tapi dari Wahyu petunjuk Ilahi Rabbi.
Bahkan tak hanya perkara tahun baru ini.
Namun seluruh sisi kehidupan telah termaktub abadi.
Firman Allah subhanahu wa ta'ala,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
"..Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu
untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam
sebagai agamamu.." (QS. Al-Ma'idah:3)
Yang harus kita ketahui bahwa syariat adalah anugerah indah
dari Tuhan.
Ia bukanlah penjara kebebasan.
Namun ia adalah petunjuk menuju kebahagiaan.
Mungkin hari ini kita memandang ini agak ekstream.
Namun siapakah paling tahu tentang kebenaran dan kebaikan?
Kitakah yang yang dicipta atau Tuhan Yang Menciptakan?
Sejarah Tahun Baru
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45
SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia
memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan
sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu
oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar
penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana
yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu
dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun
45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan
agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang
secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak
lama sebelum Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan
Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis
diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan
Agustus. (Sumber: Wikipedia)
Dari sejarah tahun baru kita sudah mengambil kesimpulan
bahwa perayaan tahun baru tidaklah berasal dari Islam. Ia berasal dari
orang-orang kafir.
Nah pertanyaannya, apakah dengan
sejarah tersebut lantas merayakannya tidak boleh? bukankah merayakannya tidak
berarti masuk ke agama mereka?
Baik, mari kita jawab.
Pertama, Nabi Menyelisihi Hari Raya Mereka
Ketahuilah diantara kebiasaan bangsa Yahudi adalah
dikit-dikit membuat hari besar dan hari raya.
Ketika Ibnu ‘Abbas membaca ayat QS.Al-Maidah:3, beliau
berkata, “Orang Yahudi mengatakan:
لو نزلت هذه الآية علينا، لاتخذنا
يومها عيدًا!
"Seandainya ayat ini turun di tengah-tengah kami,
niscaya kami akan merayakan hari turunnya ayat tersebut sebagai ‘ied (hari
besar atau hari raya).” Disebutkan serupa pula oleh Ibnu Jarir Ath Thobari
dalam kitab tafsirnya.
Kemudian diantara contoh sikap Nabi dalam menyelisihi hari
yang diagungkan kaum Yahudi adalah;
Ibnu Abbas radhiallahu ’anhu berkata, ketika Nabi shallallahu
’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum
muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ
تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى
“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan
oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ –
إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
“Apabila tiba tahun depan insya Allah kita akan berpuasa
pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى
تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa
sallam lebih dulu meninggal dunia.” (HR. Muslim no.1134)
Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk
berpuasa? Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksudnya adalah untuk
MENYELISIHI orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. (Lihat
Syarh Shahih Muslim, 8:14)
Orang jahiliyahpun punya hari besar dan hari raya. Sedangkan
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam justru selalu menyelisihi mereka.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari
Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu.
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan,
‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah
telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri
dan Idul Adha.’” [HR. An Nasa-i no. 1556]
Suri Tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam senantiasa menyelisihi orang Kafir. Lantas, apakah kita mau ikut
pada perayaan yang dibuat-buat oleh mereka?
Kedua, Nabi Mewanti-wanti Ummat Muslim Akan Tasyabbuh
(Ikut-ikutan) pada Mereka
Bukan hanya menyelisihi, Nabi shallallahu alaihi wa
sallam telah mewanti-wanti bahwa kita dengan entengnya akan mengikuti
mereka, hingga mereka masuk dalam kerusakan kitapun ikut-ikutan masuk dalam
kerusakan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum
kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika
orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (lubang biawak), pasti
kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah,
Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas
siapa lagi?” [HR.
Muslim no. 2669]
Imam An Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits
di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan 'sejengkal' dan 'sehasta' serta
lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa
tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan
Nashrani. Yaitu kaum muslimin meniru mereka dalam kemaksiatan dan berbagai
penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Sabda beliau ini adalah suatu mukjizat
bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat ini.”
[Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf
An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.]
Ketiga, Nabi Memberi Peringatan Akibat Meniru-Niru
Mereka.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak hanya melarang
meniru orang kafir, bahkan memperingati kaum muslimin bahwa siapapun yang
mengikuti mereka, maka ia bagian dari kaum mereka. Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda:
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia
termasuk bagian dari mereka.”
[HR. Ahmad dan Abu Daud]
Sungguh rugi, kita hidup di era kenabian Nabi Muhammad,
justru Nabi sendiri tidak mengakui kita sebagai ummatnya akibat loyalnya kita
terhadap orang kafir dalam bertasyabbuh (ikut-ikutan). Jika Nabi tidak mengakui
kita sebagai ummatnya maka kelak di padang mahsyar saat kita membutuhkan
pertolongan Nabi, Nabipun enggan memberi pertolongannya karena enggan-nya kita
mengikutinya saat di dunia, waliyadzu billah.
Keempat, Pesta Maksiat di Tahun Baru
Tahun baru diwarnai dengan momen bersenang-senang berkumpul
bersama teman, bahkan kekasih yang tidak halal. Pesta tahun baru selalu
diwarnai dengan pesta ikhtilat (campur baur lelaki dan wanita) yang memberi
jalan tol pada perzinahan. Sedangkan Allah Ta'ala melarang kita untuk mendekati
Zinah.
Allah Ta’ala
berfirman:
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ
كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu
sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk."
(QS.Al-Isra':32)
Bukannya mengawali tahun baru dengan kebaikan justru
mengawalinya dengan kemaksiatan. Syaithanpun sangat gembira karena berhasil
gemilang menjerumuskan banyak manusia di malam itu.
Kelima, Pemborosan
Langit dunia di momen ini penuh warna warni kembang api,
asap, ledakan mercon dan petasan yang silih berganti menghias langit. Hanguslah
uang ratusan juta rupiah dalam semalam, ini termasuk pemborosan dan sikap
pemboros itu adalah saudara syaithan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara
boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”
(Qs. Al-Isra’: 26-27)
Keenam, Menyia-nyiakan Waktu
Bagi kaum muslimin waktu itu amat berharga, bahkan Allah
bersumpah atas nama waktu, Allah berfirman dala QS.Al-Ashr:1-3.
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar
berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati
supaya menetapi kesabaran."
Malam tahun baru adalah momen begadang, berkumpul, ngerumpi,
berdua-duaan, dan sebagainya yang tidak ada faidahnya. Ini merupakan tanda
buruknya keislaman seseorang, sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
Diantara tanda kebaikan Islam seseorang adalah
meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [HR. Tirmidzi]
Jika tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal
yang sia-sia, berarti sebaliknya tanda keburukan Islam seseorang adalah
melakukan hal kesia-siaan, apalagi kemaksiatan.
Ketujuh, mengganggu orang lain.
Ledakan-ledakan yang dahsyat saat detik pergantian tahun tak
selamanya memberi hiburan bagi masyarakat. Tak sedikit pula masyarakat yang
merasa terganggu. Bahkan binatang seperti burung-burung yang terlelap di dahan
pohonpun boleh jadi terganggu.
Kedelapan, Potensi Cedera dan Kebakaran
Pernak pernik tahun baru semisal kembang api, petasan,
mercon, dan jenis ledakan lainnya yang secara serempak dihidupkan dalam semalam
berpotensi mencederai masyarakat.
Itulah alasan mengapa Tahun Baru tak perlu dirayakan.
Daripada menyibukkan diri dengan hal yang sia-sia bahkan tergolong maksiat
lebih baik menyibukkan diri dengan hal yang banyak memberikan maslahat.
Momen bertambahnya tahun, bukannya bersenang-senang, justru
harusnya kita semakin menyadari dan merenungi akan banyaknya dosa dan maksiat
yang telah dilakukan dalam rentan waktu yang telah lalu. Usahlah kita merayakan
tahun baru, jangan sampai ajal menjumpai kita saat kita asyik bermaksiat pada
Allah di malam itu. Wallahu a'lam. Barakallahufiikum.
Share; Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufiq.
Oleh: Ria Mardiah

No comments:
Post a Comment